Logo FED Insight
Employee Experience & Engagement

Employee Engagement in Generational Workforce

Bobby. K
|
5/5/2026
|
6 min read
Employee Engagement in Generational Workforce

Saat ini kita memasuki era multigenerasi, di mana Baby Boomer, Gen X, Milenial, hingga Gen Z bekerja berdampingan dalam satu organisasi. Era ini ditandai oleh keberagaman nilai, gaya komunikasi, dan ekspektasi kerja yang berbeda pada setiap generasi. Tantangan utamanya adalah mengelola keterlibatan karyawan (atau employee engagement) agar semua generasi merasa dihargai, termotivasi, dan mampu berkontribusi secara optimal.

Employee engagement sendiri, menurut Hewitt, adalah keterikatan intelektual dan emosional yang mendorong karyawan untuk memberikan usaha terbaik demi kemajuan perusahaan. Engagement yang tinggi terbukti dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat retensi, dan mendorong inovasi. Sebaliknya, engagement yang rendah berisiko menurunkan kinerja, meningkatkan turnover, merusak budaya kerja, dan menambah beban biaya, termasuk kehilangan talenta kunci yang penting bagi pertumbuhan perusahaan.

Lantas, apa yang diperlukan untuk membangun keterlibatan karyawan yang kuat? organisasi perlu memahami bahwa engagement tidak berdiri sendiri, melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor motivasi yang mendasarinya. Tingkat engagement mencerminkan seberapa baik organisasi mengelola faktor-faktor motivasi karyawan.

Studi Mercer mengidentifikasi tiga dimensi kritikal yang memengaruhi motivasi karyawan beserta faktor-faktor yang memperkuat maupun melemahkannya. Dimensi tersebut antara lain: ACHIEVEMENT (Pencapaian) - CAMARADERIE buat bahasa lain (Kebersamaan) - EQUITY (Keadilan). Mari kita bahas satu persatu faktor tersebut:


ACHIEVEMENT (Pencapaian)

Achievement merujuk pada sejauh mana karyawan merasa mencapai sesuatu yang bermakna dalam pekerjaannya. Dimensi ini terkait dengan kebutuhan akan pencapaian pribadi dan profesional, yang muncul ketika:

  • Pekerjaan terasa bermakna → kontribusi mereka dianggap penting.
  • Pengakuan (recognition) diberikan → usaha dihargai secara adil.
  • Peluang karier tersedia → ada ruang untuk berkembang dan naik jenjang.
  • Misi organisasi jelas dan kuat → karyawan merasa menjadi bagian dari tujuan yang lebih besar.

Sebaliknya, dimensi ini dapat melemah bila karyawan menghadapi micromanagement, kurangnya umpan balik, keterbatasan sumber daya, atau ketidakjelasan masa depan, yang membuat mereka kehilangan motivasi dan arah.


CAMARADERIE (Kebersamaan)

Camaraderie berkaitan dengan kualitas hubungan sosial dan rasa kebersamaan di tempat kerja. Engagement meningkat ketika ada budaya saling percaya, komunikasi terbuka, tim yang saling mendukung, serta rasa memiliki dalam komunitas organisasi. Faktor-faktor ini menciptakan solidaritas dan kolaborasi yang memperkuat motivasi karyawan.

Sebaliknya, engagement melemah jika komunikasi buruk, konflik antar rekan kerja bersifat destruktif, dukungan antarbagian minim, atau tingkat ketidakpercayaan tinggi. Kondisi ini menghambat kolaborasi, menurunkan moral, dan merusak loyalitas karyawan terhadap organisasi.


EQUITY (Keadilan)

Equity berbicara tentang rasa keadilan dan integritas dalam organisasi. Engagement meningkat ketika karyawan menerima gaji dan tunjangan yang setara dengan kontribusi mereka, diperlakukan secara adil tanpa diskriminasi, mendapatkan transparansi dalam proses dan kebijakan, serta melihat budaya perusahaan yang menjunjung nilai etika. Faktor-faktor ini menumbuhkan rasa percaya dan loyalitas terhadap organisasi.

Sebaliknya, engagement dapat melemah jika ada favoritisme, lingkungan kerja yang penuh ketidakpedulian atau tidak menghargai, kurangnya akuntabilitas, serta beban kerja yang tidak merata. Kondisi ini menimbulkan rasa frustrasi, ketidakadilan, dan menurunkan kepercayaan karyawan terhadap perusahaan.

Ketiga dimensi—Pencapaian, Kebersamaan, dan Keadilan—merupakan fondasi universal dalam membangun keterlibatan karyawan. Namun, bagaimana karyawan menafsirkan dan merespons ketiga dimensi tersebut sangat dipengaruhi oleh latar belakang generasi mereka. Setiap generasi—mulai dari Baby Boomer hingga Gen Z—membawa nilai, ekspektasi, serta gaya kerja yang berbeda, sehingga pendekatan engagement tidak bisa bersifat “satu untuk semua”.

Ketiga dimensi tersebut berlaku universal, namun cara karyawan meresponsnya sangat dipengaruhi oleh perbedaan generasi—mulai dari Baby Boomer hingga Gen Z—yang membawa nilai, ekspektasi, dan gaya kerja masing-masing. Untuk itu perlu dipahami bagaimana karakteristik antar generasi dapat berpengaruh terhadap tingkat motivasi, keterlibatan (engagement), serta cara mereka berkontribusi dalam organisasi:

  • Baby Boomers (1946 – 1964):

1. Ciri pribadi: optimis, kompetitif, pekerja keras (workaholic), dan berorientasi tim.

2. Dibentuk oleh: Masa pemulihan pasca perang, ledakan populasi, gerakan sosial, dan gejolak politik.

3. Motivasi utama: Loyalitas, stabilitas karier, pencapaian melalui kerja keras, dan pengakuan atas dedikasi.

4. Gaya komunikasi: memilih cara paling efisien, termasuk telepon maupun tatap muka.

5. Pandangan hidup: pencapaian datang setelah usaha keras; kesuksesan membutuhkan pengorbanan.

6. Statistik penting:

a. 49% Baby Boomers memperkirakan akan tetap bekerja setelah usia 70 tahun atau bahkan tidak berencana pensiun.

b. Sekitar 10.000 Baby Boomers mencapai usia pensiun setiap hari.

Ringkasnya: Baby Boomers dikenal sebagai generasi pekerja keras yang loyal terhadap organisasi, berorientasi pada pencapaian melalui kerja keras dan pengorbanan, serta cenderung tetap aktif bekerja bahkan di usia lanjut.

  • Generasi X (1965 – 1976):

1. Ciri pribadi: fleksibel, informal, skeptis, dan mandiri.

2. Dibentuk oleh: Krisis kesehatan global, transisi politik, serta awal perkembangan teknologi baru.

3. Motivasi utama: keberagaman, work-life balance, serta kepentingan pribadi-profesional di atas kepentingan perusahaan.

4. Gaya komunikasi: menggunakan cara paling efisien, baik telepon maupun tatap muka.

5. Pandangan hidup: menghargai keberagaman, cepat berpindah bila kebutuhan tidak terpenuhi, serta enggan menerima perubahan kerja jika mengganggu kehidupan pribadi.

6. Statistik penting:

a. 55% pendiri startup berasal dari Generasi X—persentase tertinggi.

b. Pada tahun 2028, jumlah Gen X diproyeksikan akan melampaui Baby Boomers.

Ringkasnya: Gen X dikenal mandiri dan fleksibel, sangat menghargai keseimbangan hidup, serta lebih memprioritaskan kepentingan pribadi daripada perusahaan. Mereka pragmatis, terbuka pada keberagaman, dan berperan besar dalam kewirausahaan modern.

  • Milennials (1977 – 1996):

1. Ciri pribadi: kompetitif, berpikiran terbuka, berorientasi pada pencapaian, serta peduli isu sosial.

2. Dibentuk oleh: Terorisme, resesi ekonomi, globalisasi, dan revolusi internet.

3. Motivasi utama: Pertumbuhan dan pengembangan diri, pengalaman kerja bermakna, kepemimpinan yang suportif, serta fleksibilitas.

4. Gaya komunikasi: pesan instan, teks, dan email.

5. Pandangan hidup: mencari tantangan, pertumbuhan, dan pengembangan diri; menginginkan keseimbangan kerja-hidup yang menyenangkan; cenderung keluar dari organisasi bila tidak menyukai perubahan.

6. Statistik penting:

a. Diperkirakan 75% tenaga kerja global akan didominasi oleh Millennials pada 2025.

b. 18% pria Millennial usia 25–34 masih tinggal bersama orang tua.

c. 12% wanita Millennial usia 25–34 masih tinggal bersama orang tua.

Ringkasnya: Millennials adalah generasi mayoritas dalam angkatan kerja global yang mengutamakan self development, pekerjaan yang memberi arti dan kontribusi nyata, serta work-life balance. Mereka cenderung cepat berganti pekerjaan bila tidak puas dengan kondisi organisasi.

  • Generasi Z (1996 – 2010):

1. Ciri pribadi: global, berjiwa kewirausahaan, progresif, namun cenderung kurang fokus pada satu hal.

2. Dibentuk oleh: Ketidakpastian ekonomi, gaya hidup digital-native, dan perubahan sosial yang cepat.

3. Motivasi utama: Kesempatan belajar berkelanjutan, kreativitas, keberagaman dan inklusi, serta ruang untuk mengekspresikan individualitas.

4. Gaya komunikasi: media sosial, pesan teks, dan pesan instan.

5. Pandangan hidup: mengidentifikasi diri sebagai generasi yang lekat dengan perangkat digital; menghargai kemandirian dan individualitas; lebih nyaman bekerja dengan manajer Millennial, rekan kerja inovatif, dan teknologi baru.

6. Statistik penting:

a. 67% Gen Z ingin bekerja di perusahaan yang memberi kesempatan belajar keterampilan untuk pengembangan karier.

b. 80% Gen Z percaya pemerintah dan perusahaan sebaiknya memberikan subsidi, membayar penuh biaya pendidikan, atau menyediakan pelatihan langsung bagi pelajar.

Ringkasnya: Generasi Z adalah generasi digital-native yang sangat menghargai keberagaman, kreativitas, serta peluang belajar. Mereka lebih memilih organisasi yang mendukung pengembangan keterampilan dan inovasi, serta mengutamakan kemandirian dalam bekerja.

Tenaga kerja multigenerasi menghadirkan keragaman nilai, motivasi, dan preferensi komunikasi yang unik. Baby Boomers menekankan loyalitas dan dedikasi, Gen X mencari fleksibilitas, Millennials mengutamakan pertumbuhan diri dan keseimbangan hidup, sementara Gen Z lebih menghargai kreativitas, keberagaman, dan kesempatan belajar.

Untuk menjaga keterlibatan (engagement) secara berkelanjutan, organisasi perlu:

  • Menciptakan kejelasan peran dan tujuan agar generasi senior merasa dihargai kontribusinya, sementara generasi muda mendapat arah yang jelas.
  • Mengadopsi komunikasi multi-channel—dari interaksi personal hingga media digital—sesuai preferensi tiap generasi.
  • Memberikan peluang pertumbuhan dan pembelajaran yang relevan, baik melalui mentoring antar generasi, pelatihan berbasis teknologi, maupun program pengembangan karier.
  • Menjaga keadilan, transparansi, dan penghargaan untuk mengurangi potensi konflik akibat perbedaan ekspektasi.
  • Membangun budaya kolaboratif yang menggabungkan kekuatan masing-masing generasi: pengalaman generasi senior dengan inovasi generasi muda.

Engagement lintas generasi dapat tercapai bila perusahaan mampu menghadirkan ekosistem kerja yang inklusif, adaptif, dan people-centric, dengan strategi yang menyeimbangkan kebutuhan individu dan tujuan organisasi.


Reference

Tags:

Future of Work People StrategyGenerational WorkforceEmployee EngagementHuman Capital